In order to fulfill the basic functions of our service, the user hereby agrees to allow Xiaomi to collect, process and use personal information which shall include but not be limited to written threads, pictures, comments, replies in the Mi Community, and relevant data types listed in Xiaomi's Private Policy. By selecting "Agree", you agree to Xiaomi's Private Policy and Content Policy .
Agree

Majalah Mi Fan Club

[Lain-Lain] [CERPEN] Tragis Di Balik Gerimis

2021-02-20 22:41:12
1791 36



Deting hujan membasahi bumi, berbunyi gemerisik lembut menyentuh atap dan terdengar sayup dari dalam ruangan itu dan menghantarkan dingin yang menelisik di balik peraduan kosong tak berpenghuni, di sudut ruangan terdapat meja dan sebuah kursi malas dekat perapian dengan apinya yang merah menyala kekuningan, di atas meja itu juga terdapat secangkir kopi yang hampir dingin menunggu untuk di nikmati pemiliknya yang tiada bersua dari tadi.Di luar derak hujan yang semakin deras menghantam kaca jendela dan menimbulkan bintik bintik air yang merata laksana potongan berlian yang siap untuk di proses, sepasang mata menerawang kosong di balik jendela itu dan bertanya tanya apakah hidup itu sedemikian indahnya sampai hal kecil pun bisa menjadi indah bila di perhatikan dengan seksama.

Pemilik sepasang mata itu menghela nafas sejenak dan memecah kesunyian yang sedari tadi membekukan suasana. Seluruh tubuhnya terasa kaku di atas kursi malas itu sedati tadi terdiam mengingat semua kisah hidupnya yang penuh cerita, kini matanya nanar mencari cangkir kopi yang juga dari tadi menunggunya untuk di nikmati dan kemudian di seruputnya tanpa ampun kopi pahit yang sepahit hidupnya, di bukanya sebungkus gudang garam di saku jaketnya dan kemudian segera dinyalakannya sambil kembali duduk menerawang, tatapannya yang kosong dan sendu menembus hujan di balik jendela itu, jendela yang menjadi saksi bisu tentang semua kejadian yang ada di dalam ruangan ini, tentang sepasang tangan arlene yang memeluknya melewati malam hujan yang dingin dan menghangatkannya diatas ranjang di sudut ruangan tersebut.

Ah….

Laki laki itu kembali mendesah berusaha menghapus bayangan yang selalu menghantuinya itu, di hisapnya kembali tembakau yang sedari tadi di pegangnya, asap mengepul perlahan keatas dan memudar seakan bersama dengan memudarnya kenangan tersebut.
Tiba tiba terdengar bunyi pintu terbuka dari luar dan derap langkah berjalan mendekat dengan lembut, laki laki itu tetap tidak bergeming, tubuhnya tetap bersandar dan tidak menoleh sama sekali sampai sepasang tangan memeluknya dari belakang dan membuatnya menoleh sambil tersenyum

“ masih mengingat arlene lagi wir?” suara itu terdengar lembut di telinga wira

“Tidak cukupkah aku disini wir?” kini suara itu berubah bergetar penuh kegetiran.

Laki laki itu wira,

Dia sejenak tersadar dari bayangan yang sedari tadi menghempaskannya, kembali menatap jendela itu sambil memegang lehernya yang masih terasa hangat oleh bekas pelukan wanita itu.

Tiba tiba matanya yang kosong berubah menjadi penuh kebencian dan kesedihan

“ kenapa kamu harus ada disini niken?”

“kenapa harus aku?” lanjut wira bergetar

Satu tetes bulir hujan menggelayut di kelopak matanya.

Wirapun terisak, menahan perih dan beban semua bayang bayang itu.

Sakit.

Ingatannya menerawang menembus batas kesadarannya mengingatkan sebuah gambar wanita di sudut ruangan itu, wanita yang berusaha menjadi pengganti arlene, dan menjadi penyebab perginya arlene dari pelukannya kemudian berusaha menggantinya dengan cinta yang dia miliki,
Niken nama wanita itu, Dialah penyebab semua ini dan menghempaskan Wira dalam kesepian di balik gemericik hujan ini.

“Tidak..!!” tiba tiba wira berteriak

“Tak tahukah kau Niken bukan kau yang selama ini aku inginkan?”

“Jika kau mencintaiku seharusnya kau biarkan aku bersama arlene” lanjutnya sambil menatap benci kepada Niken.

Niken hanya terdiam di sudut ruangan, berkaca kaca menahan tangis dan tidak berusaha menjawab, hanya memegang dada sambil menggigit bibir tipisnya yang mulai berdarah, seakan sakit bibirnya bisa menahan rasa sakit hatinya

“Ta tapi wira” jawab niken terbata bata

“Aku sudah memberikan semuanya untukmu, tidakkah cukup semua ini untuk menggantikan arlene?” ujar niken di sela sela isak nafasnya yang mulai tersengal.

“Aku hanya ingin kau melihatku wira, Arlene sudah pergi, apa aku tidak cukup buatmu?” bisiknya hampir tak terdengar.
Wira menatap tajam pda Niken dan berdiri dari kursi malas yang sedari tadi dia duduki, berjalan cepat dan berbisik di telinga Niken

“ Seharusnya kau saja yang pergi, aku sudah muak denganmu” bisiknya

Niken terkesiap, tangisnya pecah rasa sedihnya memuncak, tidak seharusnya dia di campakkan seperti ini,setelah semua yang dia berikan kepada laki laki yang sangat di cintainya ini.

“Baik wira jika itu maumu! Aku akan pergi darimu selamanya seperti arlene” ucap niken pada akhirnya

Dan di saat yang sama di ambilnya pisau yang terletak di sudut ruangan dan di tusuknya cepat pada dada tepat di jantungnya sendiri.

“Heeekhhh”

Wira kaget terloncat dan menjerit

“Nikeeennnn”…

Dan mendadak wira tersadar oleh suara gemuruh guntur yang menggelegar membangunkannya dari mimpi buruk tentang seseorang di masalalu yang juga meninggalkannya di kamar ini.Wirapun terduduk di kursi malas yang menjadi saksi kejadian itu, dimana akhirnya membuatnya menjadi terpuruk dalam pelbagai kenangan dan penyesalan sepanjang hidupnya

“Maaf” ujarnya penuh penyesalan

“Maafkan aku yang membuatmu menderita selama ini niken” ujarnya sembari terisak

“Tapi tidak seharusnya kau pergi seperti itu, walaupun aku sangat membencimu” tangisnya semakin menjadi

Hujan masih bergemerisik di luar, mengantarkan angin malam yang kini juga menembus kulit wira yang telah keriput, dirinya masih di kamar itu sambil memandang hujan yang membawa kenangan terburuk pada dirinya di kamar itu. Kamar yang tidak pernah berubah tatanannya.

Kopi dingin yang selalu ada di mejanya, kursi malas yang selalu dia duduki dan perapian yang selalu menyala di saat hujan.

Wira kembali menyeka matanya dan bersandar pada kursi malas itu, di hisapnya tembakau yang selalu menemaninya berharap, berharap arlene masih disini. Dan berharap tidak pernah mengenal niken, karena nikenlah arlene meninggalkannya, karena niken Lah yang membuatnya seperti ini.

“Arlene” desah wira mendadak rindu

“aku merindukanmu arlene” lanjutnya sendu

“ Bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Bahagiakah? Atau menderitakah?”

Wira terisak, suaranya mendayu sendu tertiup angin gerimis yang sayup gelap, menahan rindu redam dan pilu yang menyesak di dadanya.

Tragis…..

Gerimis ini memang terasa begitu tragis baginya, menghentaknya kedalam semua gambaran yang terangkai dan menancap kuat dalam isaknya yang semakin keras, Baginya tuhan terasa sangat tidak adil!

Ya tidak adil!

Tiba tiba wira merasakan kemarahan yang mendadak membuncah di dadanya

Dia sangat marah

Marah dengan takdir

Marah dengan ketidak adilan Tuhan

Marah kepada dirinya sendiri.

“Tuhan” desisnya menggeram

“Apa maumu tuhan?”

“Belum puaskah kau mengambil semuanya yang berharga bagiku?”

“dan kau masih memberiku siksaan dengan semua bayang bayang itu tuhan?”


Wira berteriak sekuat tenaganya dan mendadak terjatuh ke lantai, menangis meradang dengan semua penderitaan dan kemarahannya pada sang pencipta,Menangis sepuasnya sambil memukul mukul lantai yang lembab dan dingin itu.

Tangisnya semakin membuncah, terguncang pundaknya yang semakin kurus kering tergerus oleh nestapa, seakan tak kuat menahan beban berat yang semakin mencabik-cabik batinnya.
Mengapa harus ada bahagia jika dia harus menderita?

Mengapa harus ada cinta jika akhirnya harus merana?

“Katakan tuhan apa salahku?” geram wira

“ Bahkan kau yang maha pengasih dan penyayang memberiku duka yang sedemikian dalamnya tuhan?”

“Aku tidak sanggup tuhan, aku tidak sanggup!”

“Jawab aku tuhan, jawab!!” jerit wira tertahan di telan suara gemuruh yang menggelar

“Wira” tiba tiba sebuah suara yang sangat di kenalnya terdengar jelas bersamaan sepasang tangan yang langsung memeluknya erat

Wira terkejut dan mendadak tediam

Dia mengenal suara ini!

Suara yang sangat di rindukannya

Suara arlene!

Ya benar, ini pasti arlene!

Setelah sekian lama bahkan bertahun tahun dirinya menunggu

Bahkan ketika hampir dia menistakan takdir suara yang di rindukannya akhirnya terdengar

Tunggu dulu….

Apa mungkin ini hanya mimpi seperti tadi?

Wira ragu, mendadak tinbul sebuah ketakutan bahwa itu tidak nyata dan hanya mimpi seperti tadi,perlahan dengan gemetar wira mencoba memegang tangan itu.

Terasa sama,

Benar ini aarlene

Ini arlene ku!!!

“Kau kah itu arlene?” tanya wira ragu

Perlahan wira mencoba menoleh tapi belum sempat dia menoleh satu bibir yang sangat dia tahu mencium bibirnya dengan hangat, dia tahu benar inilah wanita yang sangat dia tunggu selama ini.

“Arlene” bisik wira bergetar
“katakan padaku semua ini nyata” lanjutnya

Arlene tersenyum, menatapnya dalam dan berbisik merdu di telinganya

“Aku nyata wira, akhirnya aku memelukmu”

“ Tapi, kenapa baru sekarang arlene?” Pungkas wira

“mengapa baru sekarang kau datang?

Arlene tersenyum dengan senyumnya yang menghangatkan hati dan sambil tetap memeluk tubuh ringkih wira,perlahan di lepaskan nya pelukan itu dan membimbing wira kembali duduk di kursi malas

“Semua itu takdir wira” ucapnya menghangatkan

“Jangan salahkan tuhan,takdir bahkan dirimu sendiri”


“yang terpenting sekarang aku sudah disini bersamamu” ujar arlene


“Kau tahu wira, kasih sayang tuhanlah yang bisa membawaku kesini untuk bertemu denganmu dan bisa kembali memelukmu wira”


“Jangan salahkan tuhan” sambungnya

“tapi arlene” jawab wira terputus oleh telunjuk arlene di depan bibirnya

“ssstttt”

“Aku selalu mencintaimu wira, bahkan dalam kepergianku aku selalu melihatmu dan mengawasimu dari jauh, namun bagiku memang belum waktunya aku kembali padamu”

“Tapi mengapa arlene? Mengapa harus begitu lama?” tangis wira mulai terisak

“bukankah yang penting aku sudah disini wira? Memelukmu kembali” pungkas arlene di sambut pelukan wira

Wira menangis haru memeluk arlene, meratap menumpahkan semua kerinduan di hatinya,

“Arlene ku sudah kembali”

“Kekasihku yang selalu ku rindukan,pelipur laraku sudak kembali”

Ruangan itu sejenak sepi, hanya tangis wira yang terdengar,tangis yang tidak bisa di gambarkan, gerimis di luarpin masih berjatuhan seakan ikut menangis haru untuk mereka.

“Wira” lembut suara itu memanggil setelah sekian detik


“hmm”

“aku ingin mengajakmu ke tempat tinggalku,dan hidup bersama”

“dimana itu arlene?” jawab wira

“tempat tinggalku selama ini sangat indah wir, dan aku selalu bermimpi bisa bersamamu di sana”

“apakah kau mau ikut denganku wir?” bisik arlene

Wira menatap arlene dalam, tersenyum dan mengangguk mantap, baginya dimanapun itu jika bersama dengan arlene dia akan merasa bahagia.

Arlene tersenyum kembali dan mencium wira, lelaki yang di cintainya itu kini telah berbaring tenang sambil menggenggam erat tangannya seakan takut akan perpisahan itu terjadi lagi.

“tenang saja wira, aku tak akan pergi, kali ini aku akan bersamamu selamanya”

Wira tersenyum dan memejamkan matanya perlahan,ini akhir dari deritanya, dia merasakan tubuhnya menjadi ringan dan terbang sambil menggenggam erat tangan arlene yang sedang tersenyum di sampingnya. Meninggalkan tubuh rentanya dan pergi untuk selamanya di balik gerimis.

Angin malam masih bertiup mengantarkan hujan dan jiwa wira pergi dari tubuhnya menuju akhir dari penantiannya dengan tersenyum, gemerisik gerimis yang mulai reda menjadi saksi tubuh dingin wira yang tertidur lelap di kursi malas dengan cangkir kopi yang tumpah dan berbau sianida menyengat.

Wira pergi dengan senyuman meninggalkan kisah tragis di balik gerimis.
2021-02-20 22:41:12
Favorites15 RateRate

Advanced Bunny

nyonyotello | from Redmi 8A Pro

#1

kereennn
2021-02-20 23:11:11

Master Bunny

alungstiff Author | from Redmi Note 9 Pro

#2

nyonyotello
kereennn

makasih kak
2021-02-20 23:11:38
akhirnya bisa bobok di kasur
2021-02-20 23:59:26
wah, om alung ternyata cerpenis ya.. mantap om..
2021-02-21 00:34:32

Master Bunny

hadiklhairi | from Redmi 4X

#5

nyesek juga yah
2021-02-21 07:52:35
Redmi 4x tetap oke

Super moderator

Belong | from Redmi Note 8 Pro

#6

Curhat kaka?
2021-02-21 08:25:51

Master Bunny

RagiL123 | from app

#7

ngopi dulu ah...
2021-02-21 09:25:59

Master Bunny

Alif Luthfia | from app

#8

kok mak tratap ya 🤣
2021-02-21 11:49:31

Master Bunny

alungstiff Author | from Redmi Note 9 Pro

#9

1901606906 | efabe.mtr
wah, om alung ternyata cerpenis ya.. mantap om..

dulu itu om<br>
wkwkwkwkw
2021-02-21 12:14:33

Master Bunny

alungstiff Author | from Redmi Note 9 Pro

#10

Belong
Curhat kaka?

ampun om mod &#129315;
2021-02-21 12:14:56
please sign in to reply.
Sign In Sign Up

alungstiff

Master Bunny

  • Followers

    865

  • Threads

    61

  • Replies

    675

  • Points

    4281

3 Days Check-In
7 Days Check-In
21 Days Check-In
40 Days Check-In
Throw Back with Mi 2018
400K Mi Fans
300K Mi Fans
500K Mi Fans
Answer Mi #1
Answer Mi #3
Ulang Tahun Xiaomi ke-10
3 Tahun Mi Community
ContributeTogether
Facebook Reviewer
Mi Challenge 2020
Redmi Note Bukan Cuma Hape

Read moreGet new

Mi Comm APP

Stay updated on Mi Products and MIUI

Copyright©2010-2021 Xiaomi.com, All Rights Reserved
Quick Reply To Top Return to the list